Selamat malam sobat...
Kali ini saya akan bagi-bagi cerpen ni dengan judul "Dimana Cinta Berkata Disitulah Semua Berubah" By Neta Putri, semoga bias jadi motivasi sobat, selamat membaca...
Dari dulu gadis cantik yang sangat sederhana ini tak pernah mempunyai angan-angan untuk mempunyai cowok sombong. Dia menutup diri untuk siapa saja yang bersikap sombong tak terkecuali temannya. Hanya pada satu waktu semuanya berubah ketika dia sudah masuk kuliah pada tahun pertama. Dhanis enggan berkomentar jauh tentang status hubungannya dengan dennis. Ia tak seperti orang jatuh cinta pada umumnya. Hari-harinya seperti biasa, tak ada yang berubah sejak mereka memutuskan untuk berpacaran. Dhanis tau dia tak seharusnya berpacaran dengan dennis yang angkuh, sombong dan menyebalkan tapi takdir berkata berbeda. Mereka dipertemukan pada waktu tak terduga, saat mereka berdua mengikuti audisi paduan suara tingkat universitas. Keduanya berasal dari fakultas yang saling berbeda. Saat sedang melakukan tes wawancara untuk seleksi pertama, dhanis diantar oleh salah satu panitia yang ada disana untuk diantar keruang wawancara yang cukup besar disana berisikan tiga orang pewawancara dan tiga orang peserta. Peserta yang masih menunggu giliran itu tiba-tiba menyeletuk di samping dhanis, “awas hati-hati ya sama reno” celetuk dennis dengan nada bercanda. Dhanis menoleh ke arah dennis, dan hanya membalasnya dengan tertawa kecil. Setelah wawancara selesai, tahap seanjutnya yaitu tes vokal. Dengan melangkah sendiri dhanis menuju ruangan tes vokal tersebut. Disana ada sekitar delapan orang yang menunggu gilirannya masuk. Di antara delapan orang tersebut termasuk dennis diantaranya. Tanpa ragu dhanis menegur dennis yang belum dikenal sebelumnya “eh kamu belum masuk tes vokal?” tanya dhanis ingin tahu. “belum nih, lama banget dari tadi, oh iya kenalan dulu. Dennis”. Jawab dennis sambil mengulurkan tangannya. “dhanis” jawabnya singkat dengan menjulurkan tangannya juga. “wah nama kita sedikit mirip ya, haha” celetuknya secara spontan. Mereka berbincang lebih setelah perkenalan tersebut. Di tengah percakapan mereka, mereka saling tahu bahwa ternyata mereka berasal dari kota yang sama yaitu jakarta. Keduanya hijrah ke Malang dengan alasan yang sama, yaitu untuk kuliah. Tapi mereka berdua sama-sama tak punya alasan yang kuat untuk menjawab pertanyaan mengapa harus pilih di Malang. Dennis pun masuk kedalam ruangan tes vokal. Dari luar dhanis menunggu, dan terdengar suara piano yang sangat bagus dari dalam ruangan. Dhanis tak tahu siapa itu yang memainkannya, tapi yang pasti itu membuat jantung dhanis berdebar lebih cepat dan positif nervous. Tidak lama, hanya selang waktu lima menit, dennis langsung keluar lagi. dennis langsung menyapa dhanis yang ada persis sedang duduk berhadapan pintu ruangannya. “eh lo kapan gilirannya?”
tanya dennis. “belum tau kayanya abis ini, kalau gak salah” jawab dhanis. “eh gue boleh minta nomor lo nis?” tanya dhanis menyusul lagi. dengan raut wajah antara bingung dan senang dennis menjawab “oh ya boleh”. Dhanis langsung menyodorkan handphonenya ke tangan dennis, dan diketiknya sendiri oleh dennis. “nih udah” kata dennis. “oh iya makasih ya” jawab dhanis. Dhanis langsung masuk ke dalam ruangan yang sudah dinantinya. Terlihat dari ruangan tes vokal oleh dhanis, dennis tampak salting di depan ruangan itu persis tempat dimana dhanis duduk. Dennis seolah masih mau menunggu dhanis selesai dari tesnya. Dengan percakapan yang singkat dengan salah satu panitia disana “ini langsung balik atau gak?” kata dennis. “ya iya lah langsung balik aja, kamu mau nugguin apalagi disini” jawab panitia yang sudah kenal sama dennis. Disitu dennis langsung pergi, dan pintu ruangan pun ditutup. Sepuluh menit selesai, dhanis sms dennis untuk memberitahu nomornya agar disave. Dhanis belum merasa apa-apa saat bertemu dennis. Perkenalannya tersebut hanya untuk menambah temannya dari berbagai macam fakultas. Hampir setiap orang yang berkenalan dengan dirinya pasti selalu dimintai nomor telfon supaya tidak hilang kontak dan tetap berkomunikasi sama mereka semua suatu saat jika butuh. Dhanis memang jomblo pada saat itu tapi bukan berarti dia tak dekat dengan seseorang. Adalah Rio ketua di salah satu UKM beladiri yang diikuti di kampusnya. Mereka memang sudah saling suka tidak lama setelah dhanis masuk menjadi keanggotaan di UKM tersebut. Hampir setiap saat latihan, rio menjemput dhanis ke kostnya. Pendekatannya tak selalu berjalan dengan mulus, karena dhanis telah tau kalau rio ternyata sudah punya pacar. Tapi itu tak pernah bikin dhanis patah semangat untuk terus latihan agar bisa ketemu sama rio. Saat itu dhanis tau, rio lah yang membuatnya bisa nyaman. Setiap kali rio membagi waktunya untuk menelpon dhanis, dhanis merasa senang, nyaman, selalu ketawa. Layaknya orang jatuh cinta pada umumnya, sehingga tittle pengganggu hubungan orang, tak pernah dia perdulikan. Teman satu kamar yang sering mendengar cerita dhanis juga ikut mendukung dhanis untuk jadian sama rio, karena pikirnya dhanis jauh lebih cantik dari pacarnya rio. Dhanis pernah dijemput oleh rio pada saat selesai kuliah, dan mereka untuk pertama kalinya berkencan di Mall. Tidak punya waktu banyak disana, hanya sebentar mengelilingi mall lalu ditutup dengan makan ice cream. karena hari itu bertepatan dimana mereka harus latihan beladiri dan kembali lagi ke kampus. ketidakjelasan itu dhanis jalanin selama berbulan bulan dengan rio sebelum pacarnya rio menyadari kedekatan mereka. Sepertinya kencan itu akan menjadi yang pertama dan terakhir untuk dhanis, karena tidak lama setelah itu pacarnya rio mulai mengetahui dan mau tidak mau dhanis dan rio harus jaga jarak agar tidak menyakiti semua pihak. Agak susah bagi dhanis merasa nyaman dengan seseorang apalagi yang belum lama dikenalnya. Tapi rio bisa membuatnya nyaman dan berani membuka hatinya kembali untuk orang lain. Rio memang tak setampan mantannya terdahulu, hanya keren lah dari mata dhanis tapi yang terpenting rio bisa membuatnya nyaman, dan tetap menjadi dhanis yang apa adanya. Dalam hatinya dhanis ingin sekali rio menjadi pacarnya, setiap kali melihat foto pacarnya rio melalui twitter via kepo yang menurut teman-temannya lebih cantik dhanis kemana-mana daripada pacarnya rio yang sekarang. Mereka berdua juga nampak tidak serasi, yang satu keren yang satu biasa-biasa aja. Hubungan rio pada saat itu belum genap setahun, baru sepuluh bulan. Dan pada saat hubungan rio dengan pacarnya genap setahun dhanis memutuskan untuk melepas rio dan tak pernah mengharapkannya lagi. Masa-masa galau dilewati dhanis. Pada saat masih berhubungan dengan rio sebenarnya dhanis juga sedikit ada smsan dengan dennis tapi tak sesering dengan rio memang. Kata “gue dan lo” dirubah menjadi “aku dan kamu” oleh dennis setelah beberapa kali smsan. Dhanis merasa sangat bingung, kenapa tiba-tiba kata-kata dennis menjadi berubah, dhanis tak meu memikirkannya lebih jauh. Dhanis sangat tahu dirinya bahwa kehidupannya berbeda dengan dennis. Sempat beberapa kali dennis mengajak dhanis ke tempat coffe yang biasa dennis datangi bersama teman-temannya untuk mengerjakan tugas. Sampai-sampai ketika dennis sedang mengerjakan tugas bersama teman-temannya di tempat itu, dhanis ditelpon dennis untuk ikut kumpul bersamanya. Pada saat itu dhanis menolak ajakannya dennis. Seminggu dimasa galaunya dengan rio, dia melihat inboxnya masih ada naama dennis. Akhirnya dia kepikiran untuk bertemu dennis sekedar sharing sekaligus menghilangkan kegalauan sejenak. Mereka bertemu tidak jauh dari kost dhanis. Dengan say hello yang seadanya, dhanis langsung menaiki motor dennis. Dennis mengajaknya pergi ke tempat coffe juga, tapi bukan tempat biasanya dennis datangi. Tempat itu cukup jauh, disana dennis cerita banyak tentang keluarga dan mantan-mantannya. Dhanis tak begitu banyak omong disana, karena dhanis sangat menjaga ucapannya dengan orang yang baru dikenal apalagi dengan seorang dennis. Hanya sesekali dhanis menceritakan masa-masa SMAnya dan mantan terdahulunya. Dari pembicaraannya dennis, terlihat sekali kehidupan yang sangat kontras dengan dhanis. Dennis berasal dari keluarga yang memang berkecukupan dari kecil, sedangkan dhanis hanya berasal dari keluarga sederhana dengan segala kebutuhan yang sederhana juga tentunya. Jelas sekali bahwa perbedaan gaya hidup, dan semacamnya sangat berbeda antara mereka berdua. Tepat pukul sembilan malam, dennis mengantarkan dhanis pulang kekosnya. Ucapan terimakasih tak lupa dhanis ucapkan ketika turun dari motor dennis. Pertemuan untuk kedua kalinya dengan dennis dirasa cukup oleh dhanis. Dhanis merasa mulai tidak cocok untuk berteman lebih lanjut, lebih baik hanya sebatas kenal. Dhanis juga sudah jarang sms dennis duluan setelah itu. Empat hari kemudian, dhanis mendapat sms dari dennis. Dennis ingin makan malam berdua dengan dhanis malam itu. setelah mikir panjang, dhanis membalas sms dennis dan menyetujui ajakannya tersebut. Dennis mengajak dhanis pergi ke restoran P. Mereka duduk di meja yang paling pojok dengan lilin menyala di atas meja dan penerangan yang tidak cukup terang bisa dibilang itu spot yang paling pas buat pasangan yang ingin candle light dinner. Tapi pasangan yang ini belum mennjadi sepasang kekasih, melainkan pasangan yang hanya bertemu dua kali dan pasang nekat untuk makan malam seperti ini. Lagi-lagi dhanis hanya lebih banyak mendengar cerita dennis yang terlalu melebih-lebihkan. Sebenarnya dhanis sangat bete mendengar kata-kata dennis, tapi dhanis gak bisa memungkiri rasa senangnya diajak ke tempat romantis seperti itu. Setelah selesai, dennis kembali mengantarkan dhanis, kali ini tidak didepan kostnya dhanis. Lebih satu rumah dari kostnya dhanis, dennis berhenti disana. Dhanis segera turun, dan tidak lupa mengucapkan terimakasih, kali ini mukanya lebih bebinar. “iya sama-sama, aku juga seneng”. Kata dennis. Dhanis hanya tersenyum manis. “kamu mau kemana lagi abis ini nis?” tanya dhanis. “langsung pulang kok, banyak tugas yang belum selesai. Dan, besok aku boleh ngajak kamu pergi lagi gak?” jawab dan tanya dennis. “mau ngapain emangnya?” jawab dhanis, penasaran. “ya liat besok ajalah” jawab dennis singkat. “oh gitu liat besok ya, kayanya sih bisa” jawab dhanis tersenyum. Esoknya benar saja mereka beertemu untuk ke empat kalinya. Kali ini dennis mengajak dhanis pergi nonton di bioskop, film yang mereka pilih juga romans. Di tengah-tengah film dennis mencoba mengajak ngobrol dhanis, “dan, kamu pernah gak sih merasa kesepian disini?” tanya dennis. “ha, apa nis? Kesepian? Gak sih, kan ada temen-temen” jawab dhanis, polos. “maksudnya kesepian dari pacar, pernah gak sih?” tanya dennis, meyakinkan. “hm, iya sih pernah. Gak ada yang sms, gak ada yang telpon setiap hari” jawab dhanis. “dan, kamu mau gak jadi pacar aku?” tanya dennis, menatap mata dhanis. Dhanis mendengar itu seolah gak percaya kalau itu dennis yang ngomong, dhanis hanya diam, berpikir sejenak. Dhanis merasa pertemuannya beberapa kali itu membuat dirinya sedikit tidak nyaman untuk selalu bercakap dengan dennis. Tapi di sisi lain, dhanis juga butuh seseorang untuk mengobati kekecewaannya atas hubungannya dengan rio. Dennis memegang tangan dhanis, dan menatapnya penuh keyakinan. Ini membuat dhanis semakin berpikir terus-menerus. Pertanyaan dennis dijawab dhanis, setelah dia pulang dari bioskop. Ketika dhanis turun dari motor, sebelum membalikan badannya masuk ke dalam rumah. Dhanis berbicara dengan dennis, “nis, makasih lagi ya. Udah ngajakin aku nonton malam ini. Maaf juga tadi belum jawab pertanyaan kamu, aku rasa ini terlalu cepat”, lalu berhenti. “maafin aku ya, ini memang terlalu cepat. Sebenernya kemaren malam itu aku juga udah mau ngomong ini. Tapi baru berani sekarang. kalo kamu belum bisa jawab, besok aku tunggu jawaban kamu ya”. kata dennis. “iya, aku rasa ini cepat banget buat aku. Tapi aku juga mikirin untuk punya pacar lagi” kata dhanis. “aku tunggu besok ya” jawab dennis. Dennis langsung menghidupkan mesin motornya untuk segera pulang, tapi dhanis sempat menahannya “nis, aku mau jadi pacar kamu” kata dhanis. “seriusan kamu?” jawab dennis kaget. “iya aku mau coba jalanin sama kamu dulu” kata dhanis, tersenyum. Mendengarnya, dennis langsung memegang tangan dhanis, sambil berkata “makasih ya dan, nanti kita ngobrol lagi ya”. Dennis langsung pamitan dengan dhanis dan pulang. Tak ada yang berubah dari dhanis, setelah dia memutuskan untuk mau menjadi pacar dennis saat itu. mungkin yang berubah hanya pengharapan telpon dan sms dari pacar barunya itu. ya tak ada yang berubah, pada dasarnya dennis memang anak yang paling sibuk. Sama seperti sebelumnya saat saat mereka berdua masih menjadi teman. Dhanis sempat kesal sekali karena dennis hanya sekali mengabarinya. Dhanis mengira kalau dia jadi pacarnya dennis, paling tidak dennis berubah sedikit agak perhatian walaupun sibuk. Tapi ternyata tidak sama sekali. Kekesalannya itu, dhanis lontarkan kejaringan sosial twitter, dhanis tau kalau dennis gak pernah nge-poin dia di twitter karena memang dennis jarang sekali online twitter. punya cowok kaya gak punya cowok. kata kata itu dhanis tulis di twitter. Delapan jam kemudian, dhanis mendapat pesan singkat dari dennis “aku udah mencoba untuk mendekatkan diri sama kamu, tapi kaya’nya kamu gak pernah bisa deket sama aku” dennis. “kenapa kamu ngomong gitu? kamu jarang sms aku, aku itu pacar atau temen kamu emangnya?” jawab dhanis ketus. “aku gak suka smsan, aku lebih baik telpon-telponan” jawab dennis. Percakapan panjang itu mereka lanjutkan di telpon. Dennis memang orang yang tidak mau kalah, sedangkan dhanis paling males meladeni orang seperti itu. jadilah percakapan itu tidak ada jalan keluarnya, yang ada hanya emosi dari mereka berdua. Sampai pada akhirnya dennis mengucapkan kata putus kepada dhanis. Dhanis tak pernah perduli kalau dia diputusin, tapi dia kesal dan merasa gak abis pikir mengapa dia dipertemukan dengan cowok seperti dennis yang tipe seperti dennis lah yang dibenci. Mungkin Tuhan berencana lain, pikirnya positif. Dan hubungan mereka berdua hanya berjalan dua minggu saja. Setelah putus, dhanis tak pernah sekalipun mencoba sms dennis, bahkan kepo di twitter pun gak pernah dia lakukan. Itu karena dia gak mau sakit hati lagi sama seseorang yang gak pernah dia harapkan. Semua kejadian dhanis lupakan begitu saja. Dhanis pun sudah tidak marah sama dennis, beda sekali dibanding saat pertama dennis mengucapkan kata putus ke dirinya. Bahkan dhanis sudah tidak mau bertemu dennis lagi. Sampai pada suatu hari ketika dhanis dan widya yang bukan lain teman sekamarnya membeli makan di warung makan, widya melihat dennis menuju warung makan itu juga. “dan, dan, ada dennis” kata widya. “mana sih?” tanya dhanis, penasaran. Sebelum widya menjawab, dhanis sudah melihat dennis. Dennis belum melihat keberadaan dari dhanis, spontan dhanis langsung menegurnya “dennis…” Dennis melihat ke arah dhanis, dan mimik mukanya terlihat terkejut sekali dan langsung menghampirinya “hei dan” sambil berjabat tangan. “apa kabar, kamu abis makan disini?” tanya dennis. “baik, iya aku abis nemenin temen aku makan” jawab dhanis. “dan, nanti sore aku sms kamu lagi deh” ucap dennis. Dhanis benar-benar lupa nampaknya dengan kejadian sebelumnya, dhanis ingatmya bahwa dennis tetap menjadi temannya. Benar saja, sorenya dennis menghubungi dhanis kembali. Dennis mengirim pesan singkat ke dhanis dengan kata basa basi. Lagi-lagi dennis mengajak makan malam dhanis, kali ini bukan di resto melainkan di tempat makan biasa sekitar kampusnya itu. dan keesokannya berlanjut seperti biasa. Dhanis mengikuti lomba karaoke yang diadakan fakultas teknik. Kebetulan sekali fakultas yang didatangi dhanis itu bersebelahan dengan fakultasnya dennis. Selama lomba dhanis, benar-benar berharap bahwa tidak ada dennis mengikuti lomba itu juga. Sampai pada akhir dhanis menyanyi, ia langsung ingin kembali lagi ke kampusnya. Hatinya lega, karena tidak bertemu dennis saat lomba itu. sampai dipakiran, saat dhanis sedang bercanda dengan temannya ada yang memanggilnya “dan, dan, dan” sampai tiga kali panggilan, dhanis baru sadar. Ketika dia lihat yang memanggilnya adalah dennis, dhanis langsung panik. Dan gak nyangka banget bakal ketemu dennis lagi disaat yang gak pernah terduga. Mereka bercakap cakap kecil dan dennis menjanjikan dhanis untuk menghubunginya lagi. dan itu direspon baik sama dhanis. Setelah bertemu hari itu, obrolan mereka lebih intens di sms atau di telpon. Dhanis melihat perlakuan dennis lebih baik dari sebelumnya, dennis juga sudah jarang menceritakan hal yang berlebihan. Dhanis merasa sudah mulai merasa nyaman dengan dennis. Dennis juga lama kelamaan terbiasa dengan kesederhanaannya dhanis. Entah kenapa dhanis merasa butuh berada di dekat dennis. Dhanis sangat suka semangatnya dennis dan bagaimana dennis menyemangati dhanis untuk rajin kuliah. Sementara dennis memang butuh cewek yang mampu memahaminya lebih dan hanya dhanis untuk saat ini yang memberikan pengertian lebih pada dirinya. Saat ulang tahun dhanis, dennis memberi kado dan meminta traktiran dari dhanis. Dhanis gak tau, harus mengajak dennis pergi kemana karena takut dennis tidak suka tempatnya. Akhirnya dhanis bilang kepada dennis untuk dia sendiri yang memutuskan tempatnya. Dennis membawa pergi dhanis ke kafe masih di sekitaran kampus. Di kafe tersebut dennis mengatakan seperti apa yang dia katakan pertama kali saat nembak dhanis. Disitu mereka saling jujur bahwa selama ini mereka saling membutuhkan satu sama lain. Dennis memegang tangan dhanis, dan kali ini dieratkannya langsung pegangan itu oleh dhanis. Di dalam kafe yang nampak sepi, dennis mencuri kesempatan untuk menatap mata dhanis dan mencium keningnya. Aliran itu terasa sangat berbeda sekali dhanis rasa. Mungkin dhanis belum bisa menjawab pertanyaan mengapa dia bisa dekat dengan tipe orang yang dulu dibencinya, tapi dhanis selalu percaya Tuhan pasti ingin menyampaikan maksudnya dibalik semua ini. Mengambil hikmah cara yang paling bijak diambil dari hubungan mereka berdua. Status sosial mereka berdua memang berbeda tapi yang dhanis tau bahwa, ketika logika bermain, realita bisa mengalahkan semuanya.
Kali ini saya akan bagi-bagi cerpen ni dengan judul "Dimana Cinta Berkata Disitulah Semua Berubah" By Neta Putri, semoga bias jadi motivasi sobat, selamat membaca...
Dari dulu gadis cantik yang sangat sederhana ini tak pernah mempunyai angan-angan untuk mempunyai cowok sombong. Dia menutup diri untuk siapa saja yang bersikap sombong tak terkecuali temannya. Hanya pada satu waktu semuanya berubah ketika dia sudah masuk kuliah pada tahun pertama. Dhanis enggan berkomentar jauh tentang status hubungannya dengan dennis. Ia tak seperti orang jatuh cinta pada umumnya. Hari-harinya seperti biasa, tak ada yang berubah sejak mereka memutuskan untuk berpacaran. Dhanis tau dia tak seharusnya berpacaran dengan dennis yang angkuh, sombong dan menyebalkan tapi takdir berkata berbeda. Mereka dipertemukan pada waktu tak terduga, saat mereka berdua mengikuti audisi paduan suara tingkat universitas. Keduanya berasal dari fakultas yang saling berbeda. Saat sedang melakukan tes wawancara untuk seleksi pertama, dhanis diantar oleh salah satu panitia yang ada disana untuk diantar keruang wawancara yang cukup besar disana berisikan tiga orang pewawancara dan tiga orang peserta. Peserta yang masih menunggu giliran itu tiba-tiba menyeletuk di samping dhanis, “awas hati-hati ya sama reno” celetuk dennis dengan nada bercanda. Dhanis menoleh ke arah dennis, dan hanya membalasnya dengan tertawa kecil. Setelah wawancara selesai, tahap seanjutnya yaitu tes vokal. Dengan melangkah sendiri dhanis menuju ruangan tes vokal tersebut. Disana ada sekitar delapan orang yang menunggu gilirannya masuk. Di antara delapan orang tersebut termasuk dennis diantaranya. Tanpa ragu dhanis menegur dennis yang belum dikenal sebelumnya “eh kamu belum masuk tes vokal?” tanya dhanis ingin tahu. “belum nih, lama banget dari tadi, oh iya kenalan dulu. Dennis”. Jawab dennis sambil mengulurkan tangannya. “dhanis” jawabnya singkat dengan menjulurkan tangannya juga. “wah nama kita sedikit mirip ya, haha” celetuknya secara spontan. Mereka berbincang lebih setelah perkenalan tersebut. Di tengah percakapan mereka, mereka saling tahu bahwa ternyata mereka berasal dari kota yang sama yaitu jakarta. Keduanya hijrah ke Malang dengan alasan yang sama, yaitu untuk kuliah. Tapi mereka berdua sama-sama tak punya alasan yang kuat untuk menjawab pertanyaan mengapa harus pilih di Malang. Dennis pun masuk kedalam ruangan tes vokal. Dari luar dhanis menunggu, dan terdengar suara piano yang sangat bagus dari dalam ruangan. Dhanis tak tahu siapa itu yang memainkannya, tapi yang pasti itu membuat jantung dhanis berdebar lebih cepat dan positif nervous. Tidak lama, hanya selang waktu lima menit, dennis langsung keluar lagi. dennis langsung menyapa dhanis yang ada persis sedang duduk berhadapan pintu ruangannya. “eh lo kapan gilirannya?”
tanya dennis. “belum tau kayanya abis ini, kalau gak salah” jawab dhanis. “eh gue boleh minta nomor lo nis?” tanya dhanis menyusul lagi. dengan raut wajah antara bingung dan senang dennis menjawab “oh ya boleh”. Dhanis langsung menyodorkan handphonenya ke tangan dennis, dan diketiknya sendiri oleh dennis. “nih udah” kata dennis. “oh iya makasih ya” jawab dhanis. Dhanis langsung masuk ke dalam ruangan yang sudah dinantinya. Terlihat dari ruangan tes vokal oleh dhanis, dennis tampak salting di depan ruangan itu persis tempat dimana dhanis duduk. Dennis seolah masih mau menunggu dhanis selesai dari tesnya. Dengan percakapan yang singkat dengan salah satu panitia disana “ini langsung balik atau gak?” kata dennis. “ya iya lah langsung balik aja, kamu mau nugguin apalagi disini” jawab panitia yang sudah kenal sama dennis. Disitu dennis langsung pergi, dan pintu ruangan pun ditutup. Sepuluh menit selesai, dhanis sms dennis untuk memberitahu nomornya agar disave. Dhanis belum merasa apa-apa saat bertemu dennis. Perkenalannya tersebut hanya untuk menambah temannya dari berbagai macam fakultas. Hampir setiap orang yang berkenalan dengan dirinya pasti selalu dimintai nomor telfon supaya tidak hilang kontak dan tetap berkomunikasi sama mereka semua suatu saat jika butuh. Dhanis memang jomblo pada saat itu tapi bukan berarti dia tak dekat dengan seseorang. Adalah Rio ketua di salah satu UKM beladiri yang diikuti di kampusnya. Mereka memang sudah saling suka tidak lama setelah dhanis masuk menjadi keanggotaan di UKM tersebut. Hampir setiap saat latihan, rio menjemput dhanis ke kostnya. Pendekatannya tak selalu berjalan dengan mulus, karena dhanis telah tau kalau rio ternyata sudah punya pacar. Tapi itu tak pernah bikin dhanis patah semangat untuk terus latihan agar bisa ketemu sama rio. Saat itu dhanis tau, rio lah yang membuatnya bisa nyaman. Setiap kali rio membagi waktunya untuk menelpon dhanis, dhanis merasa senang, nyaman, selalu ketawa. Layaknya orang jatuh cinta pada umumnya, sehingga tittle pengganggu hubungan orang, tak pernah dia perdulikan. Teman satu kamar yang sering mendengar cerita dhanis juga ikut mendukung dhanis untuk jadian sama rio, karena pikirnya dhanis jauh lebih cantik dari pacarnya rio. Dhanis pernah dijemput oleh rio pada saat selesai kuliah, dan mereka untuk pertama kalinya berkencan di Mall. Tidak punya waktu banyak disana, hanya sebentar mengelilingi mall lalu ditutup dengan makan ice cream. karena hari itu bertepatan dimana mereka harus latihan beladiri dan kembali lagi ke kampus. ketidakjelasan itu dhanis jalanin selama berbulan bulan dengan rio sebelum pacarnya rio menyadari kedekatan mereka. Sepertinya kencan itu akan menjadi yang pertama dan terakhir untuk dhanis, karena tidak lama setelah itu pacarnya rio mulai mengetahui dan mau tidak mau dhanis dan rio harus jaga jarak agar tidak menyakiti semua pihak. Agak susah bagi dhanis merasa nyaman dengan seseorang apalagi yang belum lama dikenalnya. Tapi rio bisa membuatnya nyaman dan berani membuka hatinya kembali untuk orang lain. Rio memang tak setampan mantannya terdahulu, hanya keren lah dari mata dhanis tapi yang terpenting rio bisa membuatnya nyaman, dan tetap menjadi dhanis yang apa adanya. Dalam hatinya dhanis ingin sekali rio menjadi pacarnya, setiap kali melihat foto pacarnya rio melalui twitter via kepo yang menurut teman-temannya lebih cantik dhanis kemana-mana daripada pacarnya rio yang sekarang. Mereka berdua juga nampak tidak serasi, yang satu keren yang satu biasa-biasa aja. Hubungan rio pada saat itu belum genap setahun, baru sepuluh bulan. Dan pada saat hubungan rio dengan pacarnya genap setahun dhanis memutuskan untuk melepas rio dan tak pernah mengharapkannya lagi. Masa-masa galau dilewati dhanis. Pada saat masih berhubungan dengan rio sebenarnya dhanis juga sedikit ada smsan dengan dennis tapi tak sesering dengan rio memang. Kata “gue dan lo” dirubah menjadi “aku dan kamu” oleh dennis setelah beberapa kali smsan. Dhanis merasa sangat bingung, kenapa tiba-tiba kata-kata dennis menjadi berubah, dhanis tak meu memikirkannya lebih jauh. Dhanis sangat tahu dirinya bahwa kehidupannya berbeda dengan dennis. Sempat beberapa kali dennis mengajak dhanis ke tempat coffe yang biasa dennis datangi bersama teman-temannya untuk mengerjakan tugas. Sampai-sampai ketika dennis sedang mengerjakan tugas bersama teman-temannya di tempat itu, dhanis ditelpon dennis untuk ikut kumpul bersamanya. Pada saat itu dhanis menolak ajakannya dennis. Seminggu dimasa galaunya dengan rio, dia melihat inboxnya masih ada naama dennis. Akhirnya dia kepikiran untuk bertemu dennis sekedar sharing sekaligus menghilangkan kegalauan sejenak. Mereka bertemu tidak jauh dari kost dhanis. Dengan say hello yang seadanya, dhanis langsung menaiki motor dennis. Dennis mengajaknya pergi ke tempat coffe juga, tapi bukan tempat biasanya dennis datangi. Tempat itu cukup jauh, disana dennis cerita banyak tentang keluarga dan mantan-mantannya. Dhanis tak begitu banyak omong disana, karena dhanis sangat menjaga ucapannya dengan orang yang baru dikenal apalagi dengan seorang dennis. Hanya sesekali dhanis menceritakan masa-masa SMAnya dan mantan terdahulunya. Dari pembicaraannya dennis, terlihat sekali kehidupan yang sangat kontras dengan dhanis. Dennis berasal dari keluarga yang memang berkecukupan dari kecil, sedangkan dhanis hanya berasal dari keluarga sederhana dengan segala kebutuhan yang sederhana juga tentunya. Jelas sekali bahwa perbedaan gaya hidup, dan semacamnya sangat berbeda antara mereka berdua. Tepat pukul sembilan malam, dennis mengantarkan dhanis pulang kekosnya. Ucapan terimakasih tak lupa dhanis ucapkan ketika turun dari motor dennis. Pertemuan untuk kedua kalinya dengan dennis dirasa cukup oleh dhanis. Dhanis merasa mulai tidak cocok untuk berteman lebih lanjut, lebih baik hanya sebatas kenal. Dhanis juga sudah jarang sms dennis duluan setelah itu. Empat hari kemudian, dhanis mendapat sms dari dennis. Dennis ingin makan malam berdua dengan dhanis malam itu. setelah mikir panjang, dhanis membalas sms dennis dan menyetujui ajakannya tersebut. Dennis mengajak dhanis pergi ke restoran P. Mereka duduk di meja yang paling pojok dengan lilin menyala di atas meja dan penerangan yang tidak cukup terang bisa dibilang itu spot yang paling pas buat pasangan yang ingin candle light dinner. Tapi pasangan yang ini belum mennjadi sepasang kekasih, melainkan pasangan yang hanya bertemu dua kali dan pasang nekat untuk makan malam seperti ini. Lagi-lagi dhanis hanya lebih banyak mendengar cerita dennis yang terlalu melebih-lebihkan. Sebenarnya dhanis sangat bete mendengar kata-kata dennis, tapi dhanis gak bisa memungkiri rasa senangnya diajak ke tempat romantis seperti itu. Setelah selesai, dennis kembali mengantarkan dhanis, kali ini tidak didepan kostnya dhanis. Lebih satu rumah dari kostnya dhanis, dennis berhenti disana. Dhanis segera turun, dan tidak lupa mengucapkan terimakasih, kali ini mukanya lebih bebinar. “iya sama-sama, aku juga seneng”. Kata dennis. Dhanis hanya tersenyum manis. “kamu mau kemana lagi abis ini nis?” tanya dhanis. “langsung pulang kok, banyak tugas yang belum selesai. Dan, besok aku boleh ngajak kamu pergi lagi gak?” jawab dan tanya dennis. “mau ngapain emangnya?” jawab dhanis, penasaran. “ya liat besok ajalah” jawab dennis singkat. “oh gitu liat besok ya, kayanya sih bisa” jawab dhanis tersenyum. Esoknya benar saja mereka beertemu untuk ke empat kalinya. Kali ini dennis mengajak dhanis pergi nonton di bioskop, film yang mereka pilih juga romans. Di tengah-tengah film dennis mencoba mengajak ngobrol dhanis, “dan, kamu pernah gak sih merasa kesepian disini?” tanya dennis. “ha, apa nis? Kesepian? Gak sih, kan ada temen-temen” jawab dhanis, polos. “maksudnya kesepian dari pacar, pernah gak sih?” tanya dennis, meyakinkan. “hm, iya sih pernah. Gak ada yang sms, gak ada yang telpon setiap hari” jawab dhanis. “dan, kamu mau gak jadi pacar aku?” tanya dennis, menatap mata dhanis. Dhanis mendengar itu seolah gak percaya kalau itu dennis yang ngomong, dhanis hanya diam, berpikir sejenak. Dhanis merasa pertemuannya beberapa kali itu membuat dirinya sedikit tidak nyaman untuk selalu bercakap dengan dennis. Tapi di sisi lain, dhanis juga butuh seseorang untuk mengobati kekecewaannya atas hubungannya dengan rio. Dennis memegang tangan dhanis, dan menatapnya penuh keyakinan. Ini membuat dhanis semakin berpikir terus-menerus. Pertanyaan dennis dijawab dhanis, setelah dia pulang dari bioskop. Ketika dhanis turun dari motor, sebelum membalikan badannya masuk ke dalam rumah. Dhanis berbicara dengan dennis, “nis, makasih lagi ya. Udah ngajakin aku nonton malam ini. Maaf juga tadi belum jawab pertanyaan kamu, aku rasa ini terlalu cepat”, lalu berhenti. “maafin aku ya, ini memang terlalu cepat. Sebenernya kemaren malam itu aku juga udah mau ngomong ini. Tapi baru berani sekarang. kalo kamu belum bisa jawab, besok aku tunggu jawaban kamu ya”. kata dennis. “iya, aku rasa ini cepat banget buat aku. Tapi aku juga mikirin untuk punya pacar lagi” kata dhanis. “aku tunggu besok ya” jawab dennis. Dennis langsung menghidupkan mesin motornya untuk segera pulang, tapi dhanis sempat menahannya “nis, aku mau jadi pacar kamu” kata dhanis. “seriusan kamu?” jawab dennis kaget. “iya aku mau coba jalanin sama kamu dulu” kata dhanis, tersenyum. Mendengarnya, dennis langsung memegang tangan dhanis, sambil berkata “makasih ya dan, nanti kita ngobrol lagi ya”. Dennis langsung pamitan dengan dhanis dan pulang. Tak ada yang berubah dari dhanis, setelah dia memutuskan untuk mau menjadi pacar dennis saat itu. mungkin yang berubah hanya pengharapan telpon dan sms dari pacar barunya itu. ya tak ada yang berubah, pada dasarnya dennis memang anak yang paling sibuk. Sama seperti sebelumnya saat saat mereka berdua masih menjadi teman. Dhanis sempat kesal sekali karena dennis hanya sekali mengabarinya. Dhanis mengira kalau dia jadi pacarnya dennis, paling tidak dennis berubah sedikit agak perhatian walaupun sibuk. Tapi ternyata tidak sama sekali. Kekesalannya itu, dhanis lontarkan kejaringan sosial twitter, dhanis tau kalau dennis gak pernah nge-poin dia di twitter karena memang dennis jarang sekali online twitter. punya cowok kaya gak punya cowok. kata kata itu dhanis tulis di twitter. Delapan jam kemudian, dhanis mendapat pesan singkat dari dennis “aku udah mencoba untuk mendekatkan diri sama kamu, tapi kaya’nya kamu gak pernah bisa deket sama aku” dennis. “kenapa kamu ngomong gitu? kamu jarang sms aku, aku itu pacar atau temen kamu emangnya?” jawab dhanis ketus. “aku gak suka smsan, aku lebih baik telpon-telponan” jawab dennis. Percakapan panjang itu mereka lanjutkan di telpon. Dennis memang orang yang tidak mau kalah, sedangkan dhanis paling males meladeni orang seperti itu. jadilah percakapan itu tidak ada jalan keluarnya, yang ada hanya emosi dari mereka berdua. Sampai pada akhirnya dennis mengucapkan kata putus kepada dhanis. Dhanis tak pernah perduli kalau dia diputusin, tapi dia kesal dan merasa gak abis pikir mengapa dia dipertemukan dengan cowok seperti dennis yang tipe seperti dennis lah yang dibenci. Mungkin Tuhan berencana lain, pikirnya positif. Dan hubungan mereka berdua hanya berjalan dua minggu saja. Setelah putus, dhanis tak pernah sekalipun mencoba sms dennis, bahkan kepo di twitter pun gak pernah dia lakukan. Itu karena dia gak mau sakit hati lagi sama seseorang yang gak pernah dia harapkan. Semua kejadian dhanis lupakan begitu saja. Dhanis pun sudah tidak marah sama dennis, beda sekali dibanding saat pertama dennis mengucapkan kata putus ke dirinya. Bahkan dhanis sudah tidak mau bertemu dennis lagi. Sampai pada suatu hari ketika dhanis dan widya yang bukan lain teman sekamarnya membeli makan di warung makan, widya melihat dennis menuju warung makan itu juga. “dan, dan, ada dennis” kata widya. “mana sih?” tanya dhanis, penasaran. Sebelum widya menjawab, dhanis sudah melihat dennis. Dennis belum melihat keberadaan dari dhanis, spontan dhanis langsung menegurnya “dennis…” Dennis melihat ke arah dhanis, dan mimik mukanya terlihat terkejut sekali dan langsung menghampirinya “hei dan” sambil berjabat tangan. “apa kabar, kamu abis makan disini?” tanya dennis. “baik, iya aku abis nemenin temen aku makan” jawab dhanis. “dan, nanti sore aku sms kamu lagi deh” ucap dennis. Dhanis benar-benar lupa nampaknya dengan kejadian sebelumnya, dhanis ingatmya bahwa dennis tetap menjadi temannya. Benar saja, sorenya dennis menghubungi dhanis kembali. Dennis mengirim pesan singkat ke dhanis dengan kata basa basi. Lagi-lagi dennis mengajak makan malam dhanis, kali ini bukan di resto melainkan di tempat makan biasa sekitar kampusnya itu. dan keesokannya berlanjut seperti biasa. Dhanis mengikuti lomba karaoke yang diadakan fakultas teknik. Kebetulan sekali fakultas yang didatangi dhanis itu bersebelahan dengan fakultasnya dennis. Selama lomba dhanis, benar-benar berharap bahwa tidak ada dennis mengikuti lomba itu juga. Sampai pada akhir dhanis menyanyi, ia langsung ingin kembali lagi ke kampusnya. Hatinya lega, karena tidak bertemu dennis saat lomba itu. sampai dipakiran, saat dhanis sedang bercanda dengan temannya ada yang memanggilnya “dan, dan, dan” sampai tiga kali panggilan, dhanis baru sadar. Ketika dia lihat yang memanggilnya adalah dennis, dhanis langsung panik. Dan gak nyangka banget bakal ketemu dennis lagi disaat yang gak pernah terduga. Mereka bercakap cakap kecil dan dennis menjanjikan dhanis untuk menghubunginya lagi. dan itu direspon baik sama dhanis. Setelah bertemu hari itu, obrolan mereka lebih intens di sms atau di telpon. Dhanis melihat perlakuan dennis lebih baik dari sebelumnya, dennis juga sudah jarang menceritakan hal yang berlebihan. Dhanis merasa sudah mulai merasa nyaman dengan dennis. Dennis juga lama kelamaan terbiasa dengan kesederhanaannya dhanis. Entah kenapa dhanis merasa butuh berada di dekat dennis. Dhanis sangat suka semangatnya dennis dan bagaimana dennis menyemangati dhanis untuk rajin kuliah. Sementara dennis memang butuh cewek yang mampu memahaminya lebih dan hanya dhanis untuk saat ini yang memberikan pengertian lebih pada dirinya. Saat ulang tahun dhanis, dennis memberi kado dan meminta traktiran dari dhanis. Dhanis gak tau, harus mengajak dennis pergi kemana karena takut dennis tidak suka tempatnya. Akhirnya dhanis bilang kepada dennis untuk dia sendiri yang memutuskan tempatnya. Dennis membawa pergi dhanis ke kafe masih di sekitaran kampus. Di kafe tersebut dennis mengatakan seperti apa yang dia katakan pertama kali saat nembak dhanis. Disitu mereka saling jujur bahwa selama ini mereka saling membutuhkan satu sama lain. Dennis memegang tangan dhanis, dan kali ini dieratkannya langsung pegangan itu oleh dhanis. Di dalam kafe yang nampak sepi, dennis mencuri kesempatan untuk menatap mata dhanis dan mencium keningnya. Aliran itu terasa sangat berbeda sekali dhanis rasa. Mungkin dhanis belum bisa menjawab pertanyaan mengapa dia bisa dekat dengan tipe orang yang dulu dibencinya, tapi dhanis selalu percaya Tuhan pasti ingin menyampaikan maksudnya dibalik semua ini. Mengambil hikmah cara yang paling bijak diambil dari hubungan mereka berdua. Status sosial mereka berdua memang berbeda tapi yang dhanis tau bahwa, ketika logika bermain, realita bisa mengalahkan semuanya.